media articles


Indigenous Celebration gives voice to the “displaced”

I Wayan Juniarta | The Jakarta Post Ubud | Thu, May 17 2018

 Warrior: Dayak tribesmen perform the ruang wunrung ngurung balai dance. (JP/Anggara Mahendra)

Warrior: Dayak tribesmen perform the ruang wunrung ngurung balai dance. (JP/Anggara Mahendra)

Immediately after a vivacious musical performance played on jegog bamboo instruments by a troupe from western Bali, a female native of Nagaland, the mountainous tribal region in northeast India, entered the stage.

She summed up the plight of not only the 16 tribes that presently inhabit Nagaland, but most indigenous communities across the globe. It was a narrative of marginalization and persecution, of an asymmetrical struggle that pits native groups against the interests of major corporations, and of the lack of interest from their own government.

“Long before I knew the meaning of the word ‘displaced’ my life had been displaced,” Anungla said.

A writer and researcher who travelled across Nagaland to compile the traditional poems and folklore of her people, Anungla spoke eloquently about the cultural oppression and marginalization the Naga people have experienced for centuries.

She recounted the story of a 100-year-old lady, who during her childhood was berated by Christian missionaries for having her face marked with her clan tattoo. She also told her own personal story of being prohibited to speak in her native tongue by the nuns who ran her school.

Later on, she read a poem penned in her native language. Strange as it might sound, most of the audience sitting in front of the gorgeous stage in Ubud’s Agung Rai Museum of Art (ARMA) could relate to the sense of longing evoked by it.

The narrative put forward by Anungla was one of the central themes of Indigenous Celebration, a three-day gathering of indigenous communities from Indonesia, Australia, New Zealand, Malaysia and India.

 Blessing: Elders of the Dayak Maanyan tribe perform a ritual at the opening of the festival. (JP/Anggara Mahendra)

Blessing: Elders of the Dayak Maanyan tribe perform a ritual at the opening of the festival. (JP/Anggara Mahendra)

As many as 200 artists and performers from 32 indigenous communities participated in the inaugural festival, held from May 11 to 13, featuring art and oral tradition performances, art collaborations, educational sessions and scores of workshops — ranging from dancing and singing to weaving and tattoo making.

The inaugural gathering was the brainchild of David Metcalf and Emmanuela Dewi Shinta. Metcalf is a New Zealand-born Bali-based professional photographer and passionate activist for the preservation and promotion of indigenous communities’ culture and way of life. His passion has earned him the moniker “Dayak Dave”.

Born a member of Kalimantan’s Dayak Maanyan tribe, Shinta is the founder of Ranu Welum (Living Water), a foundation based in Palangkaraya, Central Kalimantan. It focuses on the empowerment of indigenous communities through media advocacy, youth education and activism programs.

It has organized a series of movie-making workshops to enable indigenous youths to visually narrate the story of their respective tribes as well as mobilize them to mitigate the impacts of forest fire and haze. Presently, Ranu Welum is working with more than 20 indigenous groups in Kalimantan.

It was not an easy feat to organize a festival involving participants from some of the remotest regions in the archipelago, a large number of whom have never traveled outside their village and do not have the necessary ID required by airlines. Furthermore, there was the huge financial challenge.

“I had very little financial support apart from one major sponsor: the New Zealand Embassy, which was very supportive right from the start. There was no financial support from the Indonesian government at all, neither at the national or local level,” he added.

In the end, they pulled it off and all those difficulties melted into the background when Metcalf and Shinta saw how the celebration had brought a new understanding to the participants.

 Tattoo: Mentawai tribesmen demonstrate the traditional art of tattoo. (JP/Anggara Mahendra)

Tattoo: Mentawai tribesmen demonstrate the traditional art of tattoo. (JP/Anggara Mahendra)

Shinta recalled how the third night, when groups from different tribes and countries presented their collaborative performances, had truly touched her heart.

“Yes, we are different, but we are not meant to be divided. In the light of ongoing developments here in our country — the rising tide of religious radicalism and racism — witnessing how these different groups of indigenous people sat together and discussed the best way to present a collaborative performance was truly refreshing,” Shinta said.

“It is also a testament to what we can achieve if we are ready to accept and embrace each other,”

The new understanding and sense of unity gained by the participating indigenous communities through the festival will strengthen them in dealing with the ongoing threats.

Those threats, Metcalf pointed out, range from land rights to cultural identity and preservation.

“Destruction of land, pollution of rivers, and some communities being forced by religion to forget the old ways. This makes life very confusing for the younger generation, and for many it is a question of survival. They need support.”

That is precisely what the festival was all about. Its objectives, Shinta stressed, are simple: to connect and unite indigenous communities.

“We share the same struggles but at the same time we also share the same strength. This is the time for Indonesia and the world to give space for and listen to indigenous people, to be aware of both our beauty and our struggles,”

On the stage, Anungla once again delivered a poignant message, which reminded the audience that the struggle against displacement, cultural and otherwise, is a universal one.

“All of us have been displaced in one way or another at any given point in time."


    Perjalanan dari Rimba ke Gurun Dunia – Catatan dari Indigenous Celebration 2018

    by Jean Couteau July 4, 2018 in Esai

    Jean-Couteau.-Indigenous-Celebration1.jpg

    AKHIR-akhir, di teve, surat kabar dan media sosial Indonesia, gagasan keragaman terdengar kian lantang dikumandangkan? Di dalam bentuk kata biasa, seperti keanekaragaman, pluralisme dan multikultur, maupun di dalam bentuk semboyan, seperti Bhinneka Tunggal Ika. Apakah hal ini harus dielukan? Semestinya ya! Tetapi jangan-jangan bahasa berfungsi sebagai mantra “penolak bahaya”. Hebat sebagai ritual, tetapi minim hasilnya. Semakin dikumandangkan, semakin menghilang dari kehidupan sosial.

    Maka, daripada mengelu-elu, lebih baik bertindak secara konkret, dan mendukung keragaman di mana pun berada. Itu yang kami lakukan beberapa hari lalu, pada kesempatan festival Indigenous Celebration (Perayaan Masyarakat Asli), yang diselenggarakan di Museum ARMA di Ubud, Bali, dari tgl 11 sampai tgl 13 Mei 2018.

    Apa gerangan festival itu, dan mengapa di Ubud, seolah-olah Bali kekurangan kesempatan memperlihatkan kehebatan keragaman budayanya? Dengan judul indah ini: Indigenous Celebration, festival ini memang semestinya bertempat tinggal di Jakarta, sebagai penunjang kebersamaan nasional; dan bukan di hadapan turis, untuk memenuhi selera eksotis para tuan pasca-kolonial. Tetapi, begitulah! Orang Indonesia agaknya ogah menerima ʺkeaslianʺ kaum pribuminya sebagai sumber keindahan yang setara dengan yang ditemui di Jawa dan Bali.

    Mereka membanggakan jumlah suku dan budaya yang dimiliki bangsanya, tetapi suku asli seolah hanya ʺbolehʺ hadir sebagai lambang ke-Indonesia-an belaka, bukan sebagai realita sosial yang hidup. Untuk menyadari hal itu, cukup mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah ciptaan gagasan Ibu Tien Soeharto, di Jakarta. Seolah suku asli lebih mudah dikontrol di ʺtheme parkʺ daripada di dalam realita sosial-kulturalnya, yang sarat dengan masalah pelucutan tanah ulayat dan perusakan ekosistem.

    Namun, apa pun batasan di atas, hendaknya kita menyambut secara positif festival ʺIndigenous Celebrationʺ ini. Dengan lebih dari 200 peserta (penari, musisi) dari 34 suku asli dan 7 negara. Di antaranya dari Australia (Group Aborigin), dari New Zealand (Group Maori), dan bahkan dari Solomon Islands (Seorang musikus solo). Festival ini adalah ciptaan bersama dari seorang aktivis Dayak terkemuka, Emmanuella Shinta bekerja-sama, dengan pasangan penulis-fotografer David dan Stephanie Metcalf. Gagasan mereka adalah memperkenalkan budaya-budaya masyarakat asli agar menyadarkan kita akan kekayaannya tentu saja, tetapi juga akan perlunya menjaga memori kulturalnya sebelum tertelan sejarah.ʺ

    Jean-Couteau.-Indigenous-Celebration2-768x768.jpg

    Pagelaran ini menyajikan sebentuk diaspora estetik, menunjukkan bahwa kesenian suku-suku itu bukanlah semata hiburan masa senggang, tetapi justru merupakan ʺungkapanʺ peradaban-peradaban awal yang mengantar kita kembali ke hakikat jati diri emosional kita sebagai manusia. Meskipun disajikan sebagai tontonon, para penonton dipergelarkan aneka ritual yang sarat keharuan ʺkosmisʺ sebagaimana masih eksis hingga kini di beberapa wilayah Nusantara. Kenapa ʺmasih ʺ ? Oleh karena, tak ayal, ritual-ritual itu menanti uluran waktu, saat agama-agama Samawi, disokong perangkat kredonya yang formal, bakal menutup untuk selamanya seruan batiniah kaum asli itu. Bila itu sudah terjadi, bakal berlalulah hasrat menyatu kaum asli itu dengan sungai, gunung dan hutan alam sekelilingnya.

    Indigenous Celebration ini sejatinya merupakan tontonon yang tiada tandingan. Di dalam hampir setiap pergelaran — terutama dari Kalimantan, tetapi juga dari Sumatra (Mentawai) dan dari Australia-Aborigin– setiap gerak tarian, setiap musik, setiap cerita menghadirkan suatu warna tertentu yang beda, suatu keajaiban purba yang entah bagaimana telah berhasil bertahan, lengkap dengan makna gaibnya, di tengah serangan-serangan kapital atas pohon, tanah dan gambut, yang dikomandoi entah oleh siapa di negeri nun jauh di sana.

    Salah satu pergelaran yang paling mengesankan adalah “ritual ” purba dari Suku Dayak Ma’anyan, suatu ritual pembersihan dan pengusiran roh jahat. Mengapa perlu pembersihan itu? Oleh karena ʺpentasʺ itu dipertontonkan di luar kalender acara biasa. Perlu acara pembersih. Lalu dilanjutkan dengan tutur kisah keramat asal muasal suku. Di situ para penutur menceritakan bagaimana leluhur suku Ma’anyan menganyam mitos perjalanan asal muasalnya di tengah hutan ladang leluhurnya. Bagi kita terdapat aneka pelajaran tentang kearifan hidup, kreasi makna dan upaya hidup di dalam harmoni dengan alam lingkungan.

    Jean-Couteau.-Indigenous-Celebration3-768x511.jpg

    Hampir semua pegelaran festival, apakah Gayo, Aborigin, atau Dayak menyangkut hal pokok yang serupa, yakni soal perayaan hidup dan pemberian makna di tengah tantangan yang serupa: bagaimana menyesuaikan diri dengan tekanan alam. Namun, menariknya, terbaca juga lain tema yang hadir di seluruh Nusantara. Tema sang lelana. Cerita yang dibawakan di dalam tarian Suku Gayo mirip kisah Panji Jawa, dengan pangeran dan ratu yang kehilangan kekasih. Mereka saling mencari, tetapi terus dihadang, hambatan demi hambatan, yang sesungguhnya merupakan ujian kesetiaan mereka. Menariknya, sambil lalu, melatarbelakangi cerita itu, tergambarkan geografi tempat. Kisah lelala adalah awal pengetahuan atas ruang. Sang ʺprimitifʺ pun haus pengetahuan.

    Sayangnya, apapun segi menarik yang dijelaskan di atas, Indigenous Celebration memiliki masalah : kurang padu. Kurasinya masih lemah. Lebih-lebih pergelaran menyangkut tiga tipe peserta, dengan genre pergelaran yang berbeda: terdapat kelompok yang langsung terpindahkan dari desa asal –Dayak atau Mentawai ; ʺpementasannyaʺ paling mengesankan, tetapi desakralisasinya tak tersembunyikan, dengan segala ambiguitas terkait : apakah akan bermuara pada kesadaran baru dan upaya otonom dari masyarakat yang bersangkutan untuk melestarikan tarian dan musik ritualnya sebagai pementasan non-sakral, sementara yang sakral tidak disentuh lagi ; atau akan sebaliknya mempercepat komersialisasi budaya ?

    Hemat saya, ambiguitas ini hanya dapat dilampaui bila para pemrakarsa festival mengambil tindakan konkret untuk melindungi memori asli –misalnya dengan merekamnya.

    Kelompok kedua terdiri dari grup seniman ʺsadar wisataʺ, dengan beberapa di antaranya yang sudah biasa pentas. Yang dapat dikritik disini ialah upaya yang kadang terlalu kentara untuk menutupi ʺkeaslian tubuhʺ, terutama untuk grup Dayak: kostumnya terlalu perfek ; kaki pria boleh terbuka total, tetapi kaki wanita tertutup, agar ʺsopanʺ dsb. Amat kentaralah di sini pengaruh dan bahkan tekanan dari aneka ʺagamaʺ luar untuk ʺmembudayakan kaum asliʺ. Hemat saya, keotentikan situasi, hendaknya dijaga dengan lebih baik.

    Jean-Couteau.-Indigenous-Celebration4-768x512.jpg

    Lain lagi sikap kelompok ketiga, yang terdiri dari orang asing. Anggota kelompok ini menyajikan ʺpemikiran kreatifʺ yang sebenarnya bersifat kontemporer di seputar warisan ritual dan gestural dari masyarakat asli acuan mereka. Mereka bukan lagi masyarakat asli murni, tetapi anggota urban dari masyarakat tersebut yang berupaya merekonstruksi identitas yang hilang. Hal ini terutama disaksikan pada pementasan kelompok ʺAborigin”. Meskipun pementasannya tidak asli lagi – sebenarnya dipergelarkan oleh grup campuran—namun kita dapat meresapi bagaimana dunia visual orang Australia asli itu.

    Apapun kekurangan di atas, yang paling menarik dari Indigenous Celebration ini ialah kesempatan untuk menyaksikan kelanggengan dari pola pikir, pola pentas, dan pola menyatu dengan alam yang, kita khawatirkan, akan cepat punah.

    Kita menanti lanjutannya, tahun depan, lengkap dengan program dari tim Indigenous Celebration untuk merekam secara lengkap, sebelum terlambat, momen-momen budaya yang dipasarkannya, agar terampuni dosanya. (ditulis dengan Wayan Westa) (T)


    Meriahnya Perayaan Masyarakat Adat Internasional yang Bersetia Melestarikan Alamnya

    suling-hidung-dayak-punan-2.jpg

    oleh Luh De Suriyani [Denpasar] di 15 May 2018

    Masyarakat adat berkolaborasi mengingatkan solidaritas pelestarian alam dan keberagaman yang menguatkan identitas bangsa dan dunia.

    Mat Kirut, pria 63 tahun ini mengambil seruling bambunya. Bukan diarahkan ke mulut tapi hidung. Mengalunlah nada-nada pentatonik tentang hutan, burung, dan kehidupan Dayak Punan, salah satu suku adat di Kalimantan Utara.

    Alkisah Kabun Yoi Yoi, leluhur mereka sedang menikmati hutan lebat rumah mereka di masa lalu. Di sudut sungai, nampak gerombolan ikan berkumpul di ujung batang bambu yang tumbang. Pada saat yang sama terdengar suara merdu dari sungai. Musik ini mengalun indah, memecah sunyi. Kabun Yoi Yoi mengambil bambu itu dan berusaha menghasilkan nada meniru para ikan, ia meyakini ikan-ikan mendendangkan nada dari lubang bambu. Jadilah kemampuan meniup suling dari hidung yang diturunkan ke generasi Dayak Punan. Ada banyak sebutan untuk suling hidung ini, misalnya Turali dan Lelingut.

    dayak-maanyan.jpg

    Keajaiban hutan dan penghuninya adalah nafas warga Dayak. Sumber makanan sepeti umbi dan protein hewani disediakan hutan tanpa pamrih. Inilah yang nampak dari kesenian yang ditampilkan warga Dayak Punan yakni Keringut Taat Urung dalam perayaan masyarakat adat internasional Indigenous Celebration 2018 pada 11-13 Mei di Museum ARMA, Ubud, Bali.

    Acara ini melibatkan lebih dari 20 kelompok pribumi dari Indonesia dan juga suku-suku lain dari berbagai negara seperti Aborigin dari Australia, Maori dari Selandia Baru dan suku Nagaland dari NE India. Sebanyak 7 negara diwakili dan 32 komunitas adat seperti tetua dan anak mudanya membagi kearifan lokalnya dalam sejumlah workshop dan pentas seni.

    Ketua Lembaga Adat Punan, Thomas Mita mengatakan warganya sangat tergantung pada hutan. Saat ini tantangannya adalah melestarikan dan menjaganya. Bukan hal mudah karena penambangan dan perambahan hutan sudah meluas di Kalimantan. Salah satu caranya adalah dengan kesenian seperti tari Keringut Urung.

    tato-dayak-iban-2.jpg

    Di ruang workshop lain ada anak muda Dayak Iban yang mengampanyekan keragaman biodiversitas lingkungannya melalui tato, seni rajah tubuh yang menjadi identitas penting warga setempat. Herpianto Hendra dan Susanto dengan bangga memperkenalkan keahliannya merajah dengan cara tradisional yakni hand tapping yakni mengetuk-ngetukkan jarum yang dipasang di ujung tangkai kayu. Perbedaannya dengan zaman dulu, jelaga campur air tebu sudah berganti tinta pabrikan dan penggunaan jarum sekali pakai.

    Di badan Susanto, pria muda Dayak Iban ini sendiri ada aneka motif flora fauna khas Dayak Iban. Tak mudah diidentifikasi karena punya gaya atau desain khas. Paling banyak jenis tanaman seperti bunga dan biji misalnya bunga terung dan bunga tengkawang. Dua jenis motif tato yang familiar memperlihatkan kebanggaan pada tumbuhan yang memiliki khasiat dan dimanfaatkan warga sekitar. Sementara untuk binatang ada motif kepiting, ketam, kalajengking, dan lainnya.

    “Sudah banyak yang motifnya beda dengan tato tradisional, katanya biar tidak ketinggalan zaman,” seru Susanto. Namun ia tetap bersetia memenuhi sebagian tubuhnya dengan desain khas sukunya ini. Simbol identitas dan kebanggaannya.

    indigenous-celebration-2.jpg

    Perayaan masyarakat adat ini dilaksanakan untuk kali pertama dan diprakarsai oleh David Metcalf, seorang fotografer-videografer fokus pada dokumenatsi masyarakat adat di Indonesia dan Yayasan Ranu Welum, Kalimantan. Dengan dukungan para pihak seperti Kedutaan Selandia Baru, Arma Museum, Green School, Antida Music Production, dan sponsor lainnya.

    Panitia menyebut tiap tiket yang terjual akan dibarter dengan sebatang pohon. Shinta masih mendata berapa tiket terjual. Pihaknya sudah menyediakan lahan 8 hektar di Kalimantan yang akan ditanam berbagai pohon kayu keras seperti Ulin yang menjadi bahan baku rumah tradisional dan makin langka saat ini. Kemudian gaharu, sengon, dan pohon buah-buahan tropis.

    David menyebut sangat penting kolaborasi internasional Indonesia dan masyarakat adat negara lain untuk saling berdialog dan menguatkan. Rekan perintis acara ini lainnya adalah Emmanuel Shinta, seorang wanita Dayak yang merupakan pendiri Ranu Welum, lembaga yang memberdayakan generasi muda komunitas adat melalui medium seni dan film. “Kami tidak percaya akhirnya berlangsung. Ini identitas, kekuatan, dan keberagaman kami,” serunya saat pembukaan hari pertama yang dihadiri ratusan orang.

    Kolaborasi keduanya mengampanyekaan kekuatan masyarakat adat sudah dimulai di Festival film Indigenous di Bali pada Januari lalu. Dilaksanakan bekerja sama dengan Ranu Welum, Handcrafted Film, If Not Us Then Who, dan Infis. Memutar 32 film-film tentang perjuangan warga adat dan pelestarian lingkungan yang diputar di festival ini. Sebanyak 17 film dari Indonesia dan sisanya dari 12 negara lain yakni India, Malaysia, Australia, Amerika Serikat, Peru, Panama, Honduras, Brasil, Nikaragua, Kongo, Kanada, dan New Zealand.

    Atraksi seni pada hari pertama diawali oleh komunitas Dayak Maanyan. Para tetua tampil di atas panggung dengan arsitektur tradisional Bali dan menyerukan doa, mantra-mantra mengharap perlindungan dan izin dari leluhur mereka. Menyebar beras dan air suci yang bermakna penyucian dari roh-roh jahat serta minta izin dari roh yang menjaga tempat pelaksanaan acara. Demikianlah spirit dan spiritualitas warga adat yang memiliki ritual dan tradisinya masing-masing dalam memberi penghormatan pada alam, yang terlihat dan tak terlihat.

    Selain pertunjukkan tiap komunitas adat juga ada kolaborasi lintas etnik dan negara. Misalnya hari pertama kolaborasi Siti Habibah (Spirit of Hornbill), Angela Wurramarra (Australian Aboriginal Artist), dan Rukmini (Ngata Toro). Hari ke-2 kolaborasi Alfirdaus dan Debbi (Komandan Art) serta Shae Duncan (Australian Aboriginal Artist). Selanjutnya ada Cyril Campbell (Australian Aboriginal Artist), Philliu Unyang-Urai Laing (Dayak Kenyah), dengan Paskialis Mahuse (Marind Papua).

    Komunitas Dayak dari berbagai daerah di Kalimantan paling banyak hadir seperti Dayak Maanyan, Benuaq, Kanayat, Kenyah, Iban, Punan, dan Ngaju. Kemudian Atoni (Timor Barat), Batak Tapanuli Utara, dan lainnya. Komunitas adat dari luar negeri adalah Aborigin (Australia), Maori (Selandia Baru), Nagaland (India), dan lainnya.

    Dihelat di kampung internasional Ubud, pengunjung dominan adalah turis dan ekspatriat yang mukim di Bali. Mereka serius mengikuti workshop dan menonton pertunjukkan, termasuk dongeng-dongeng lewat story telling tiap kelompok adat. Disampaikan dalam bahasa daerah mereka, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, lanjut dalam Bahasa Inggris. Beberapa stan biro perjalanan wisata ke Kalimantan yang mengisi stan bisa jadi akan mendapat banyak turis yang sedang penasaran pada pulau paru-paru dunia yang makin berat menjaga kelestarian hutannya ini.


    IMG_3402.jpg

    IndigeniusFestival(Travel)#2-1.jpg



    Indigenous Celebration 2018 Attracts 2,500 Visitors, To Be Held As Annual Event

    IMG-20180522-WA0002.jpg

    by BaliPictureNews - May 22, 2018

    One of the stage performances at Indigenous celebration 2018.

    UBUD, Bali (BPN) – The Indigenous Celebration held at the Arma Museum in Ubud, Bali on May 11-13 presented 34 tribes included Gayo Aceh, Antoni from West Timor, Dayak Punan, an Australian Aboriginal group, Dayak Kenyah, Marind from Papua and a New Zealand Maori group. In all, 200 Indigenous people gathered in Bali for this inaugural event – from rivers, jungles, small villages and larger urban settlements. The event has been built creatively on the sense of connection between the Indigenous people from Indonesia, the Pacific and India, including Odisha and Nagaland.

    The Celebration provided a unique opportunity for participants to reinforce their indigenous identity, including ideas, knowledge and wisdom and staged performances that resonated with ancient rhythms, songlines and sacred dances.

    The event was initiated by David Metcalf and Emmanuela Shinta. David is a photographer and author focusing on indigenous documentation in Indonesia, and Shinta is the founder of Yayasan Ranu Welum, Central Kalimantan.

    “The collaboration between Indonesia and other indigenous people created a platform for dialogue and exchange and allowed for ideas to flow, similarities to be found and bonds to be formed. By adding storytelling and poetry reading to dramatic evening dance performances, we further encouraged genuine sharing of the elders’ wisdom. It was essential to Shinta and I as co-founders to create awareness of traditional wisdom, show it in a new light,” David said.

    IMG-20180522-WA0003.jpg

    A moving opening ceremony was led by the elders of the Dayak Maanyan community. It included a prayer ritual which sought permission from their ancestors for the celebration and sought their help in guarding Arma’s sacred ground during the event. It involved ancient chants accompanied by the sprinkling of rice and holy water.

    The 3-day Indigenous Celebration continued this tradition of honouring the visible and invisible world. Other themes pervading the festival also included artistic excellence, collaboration, unity strong inter-cultural relationships, friendship and respect for nature.

    On the closing night, a live demonstration of hand-tapping, a traditional tattooing technique by the masters of two different tribes – the Mentawai and the Dayak Iban, enthralled the audience. There were also 29 daytime workshops, which for example included weaving demonstrations by West Timorese, tattooing by the Mentawai and Dayak, and Iban demonstrations and sound healing by the New Zealand Maori.

    All these activities attracted an audience of 2,500 over the three days. “This celebration event was a showcase for our Indigenous identity, strength, and diversity,” Emmanuela Shinta said.

    IMG-20180522-WA0004.jpg

    The Indigenous Celebration is to be an annual event and have pledged to plant one tree in Kalimantan for each ticket sold in 2018.

    Next year the committee are hoping more embassies and corporate sponsors who have a genuine commitment to supporting indigenous cultures will come on board. The committee is seeking partners to work in a spirit of cross-cultural collaboration accordingly to its vision to expand the Celebration’s role of recalling and reinforcing solidarity with nature, tribal traditions, and cultural preservation  and honour of the diversity of the archipelago that reinforces the identity of Indonesia and the world.


    Bali Tribune published 24 may

    48fcbb68-3d0b-4a09-9056-f78eb869aa38.JPG

    Indigenous Celebration 2018

    582e9ed7-f4df-4c85-8a26-8934252916a1.jpg

    UBUD – Indigenous Celebration yang dipentaskan di Museum Arma, Ubud, Bali, pada tanggal 11 – 13 Mei 2018 dibangun secara kreatif sebagai nara-hubung antara masyarakat adat dari Indonesia, Pasifik dan India, termasuk Odisha dan Nagaland. Ada 34 suku yang mewakili dan terlibat aktif di dalam acara ini, termasuk Gayo dari Aceh, Nusa Tenggara Timur, Dayak Punan, Kelompok Australian Aboriginal dari Australia, Dayak kenyah, Marind dari Papua, Kelompok Maori dari Selandia Baru, juga Odhisa dan Nagaland dari India. Secara keseluruhan, 200 pribumi berkumpul di Bali untuk perhelatan ini – Dari sungai, hutan, desa-desa kecil hingga permukiman perkotaan yang lebih besar.

    Perayaan ini memberikan kesempatan unik bagi para peserta untuk memperkuat identitas asli mereka. Mereka berbagi ide, pengetahuan, dan kearifan lokal serta membaur dalam lanskap panggung yang selaras dengan irama kuno, lagu-lagu dan tarian sakral.

    Upacara pembukaan Indigenous Celebration ini dipimpin oleh penatua masyarakat Dayak Maanyan. Upacara ini dipandu secara takzim dengan diiringi oleh ritual doa sebagai langkah meminta ijin dari leluhur dan meminta bantuan untuk menjaga lokasi acara selama acara berlangsung. Upacara ini melibatkan nyanyian kuno disertai dengan taburan beras dan air suci. Indigenous Celebration yang berlangsung selama tiga hari ini menempatkan tradisi untuk menghormati dunia yang terlihat, dan sekaligus yang tidak terlihat. Tema-tema lain yang melingkupi festival ini, juga mecangkup keunggulan artistrik, kolaborasi, persatuan hubungan antar-budaya yang kuat, persahabatan dan rasa hormat terhadap alam.

    Pementasan malam hari menampikan pertunjukan tari yang spektakuler di panggung, dibalut dengan pengaturan cahaya yang memukau, pemetaan koreografi, visual mapping, serta dilengkapi oleh cerita dari para penatua suku, dan tak kalah apik, pembacaan puisi menjadi kunci esensi pada malam itu. Pada malam penutupan, menghadirkan demonstrasi langsung teknik bertatto oleh dua suku yang berbeda yaitu Mentawai dan Dayak Iban, sungguh memikat hati penonton. Ada 29 lokakarya di siang hari, yang juga menerapkan tenun dari Nusa Tenggara Timur sebagai konten acara tersebut. Selain itu terdapat juga lokakarya pembuatan film bertemakan pribumi dan penyembuhan yang sehat oleh Suku Maori dari Selandia Baru. Semua kegiatan ini menarik penonton sekitar 2.500 orang yang hadir selama genap tiga hari acara.

    Acara ini diprakasai oleh David Metcalf dan Emmanuela Shinta. David Metclaf yang merupakan pemilik Taksu Photo Gallery di Ubud adalah seorang fotografer dan penulis yang fokus pada dokumentasi pribumi di Indonesia, dan Shinta adalah pendiri Yayasan Ranu Welum, Kalimantan Tengah. Dukungan diberikan oleh kedutaan Selandia Baru dan semua mitra termasuk Arma Museum, Green School, dan juga Antida Music Productions sebagai pelaksana acara Indigenous Celebration ini.

    Semua pihak berkontribusi penting dengan cara yang berbeda-beda dalam acara ini untuk membawa elemen-elemen seni pertunjukan, pendidikan, dan budaya secara bersamaan dan berkolaborasi dan ditampilkan utuh dalam acara ini. 34 Kelompok Pribumi pun dipilih dan diseleksi oleh David dan Shinta melalui konsultasi dengan AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara).

    Shinta berkata, “Indigenous Celebration adalah sebuah perayaan untuk identitas, kekuatan, dan keanekaragaman Pribumi.”

    Menurut David, “Kolaborasi antara Indonesia dan Masyarakat Adat lainnya menciptakan platform untuk dialog dan pertukaran gagasan dan pengetahuan, dan memungkinkan ide mengalir dalam rajutan kebersamaan dengan ditemukan ikatan yang akan dibentuk. Dengan menambahkan pembacaan cerita dan puisi untuk pertunjukan tari yang dramatis, kami menggali lebih jauh berbagai khazanah budaya yang mengakar pada para sesepuh negeri. Sangat penting bagi Shinta dan saya sebagai pendiri untuk menciptakan kesadaran akan kearifan lokal/ tradisional, pada pertunjukan ini dengan dimensi dan cahaya yang baru. “

    24f3502a-937e-405b-9f2b-0ccf5a237c38.jpg

    Dari segi edukasi, Indigenous Celebration mengambil tempat lebih jauh di Green School pada tanggal 14 dan 15 Mei 2018, seusai acara di Arma Museum tersebut, dan melibatkan para pemimpin Adat dan para Penatua dari suku-suku yang bertemu dengan para siswa muda di ruang kelas. Selesai dengan diskusi panel antara tujuh kelompok yang meliputi suku Odisha, India, dan Suku Atoni dari Nusa Tenggara Timur.

    Indigenous Celebration adalah acara tahunan dan telah berjanji untuk menanam satu pohon di Kalimantan untuk setiap tiket yang dijual pada acara ini.

    WhatsApp-Image-2018-05-21-at-15.43.34-1.jpeg

    Tahun depan, Komite berharap lebih banyak lagi keterlibatan dan dukungan baik dari kedutaan, maupun dari sponsor yang memiliki komitmen tulus mendukung budaya pribumi untuk bergabung dalam acara ini. Indigenous Celebration mencari mitra untuk bekerja sama dalam semangat kolaborasi lintas budaya. Ini adalah visi komite untuk memperluas peran perayaan dalam mengingat dan memperkuat solidaritas dengan alam, tradisi kesukuan, dan pelestarian budaya, dan kehormatan keragaman nusantara yang memperkuat identitas Indonesia di mata dunia, sebagai sebuah bangsa.

    Untuk dapat melihat video acara selama tiga hari, yang menampilkan 15 jam musik, tarian, dan pertunjukan silakan melihat melalui website Indigenous Celebration www.indigenouscelebration.art

    100% dari hasil Indigenous Celebration digunakan untuk mendukung Program Pengembangan Masyarakat Adat di Indonesia – Yayasan Ranu Welum. (*)


    Indigenous Celebration 2018: “Menempatkann Tradisi untuk  Penghormatan terhadap Dunia”

    582e9ed7-f4df-4c85-8a26-8934252916a1.jpg

    (Baliekbis.com), Indigenous Celebration yang dipentaskan di Museum Arma, Ubud, Bali, pada tanggal 11-13 Mei 2018 dibangun secara kreatif sebagai nara-hubung antara masyarakat adat dari Indonesia, Pasifik dan India, termasuk Odisha dan Nagaland. Ada 34 suku yang mewakili dan terlibat aktif di dalam acara ini, termasuk Gayo dari Aceh, Nusa Tenggara Timur, Dayak Punan, Kelompok Australian Aboriginal dari Australia, Dayak kenyah, Marind dari Papua, Kelompok Maori dari Selandia Baru, juga Odhisa dan Nagaland dari India. Secara keseluruhan, 200 pribumi berkumpul di Bali untuk perhelatan ini dari sungai, hutan, desa-desa kecil hingga permukiman perkotaan yang lebih besar.

    24f3502a-937e-405b-9f2b-0ccf5a237c38.jpg

    Perayaan ini memberikan kesempatan unik bagi para peserta untuk memperkuat identitas asli mereka. Mereka berbagi ide, pengetahuan, dan kearifan lokal serta membaur dalam lanskap panggung yang selaras dengan irama kuno, lagu-lagu dan tarian sakral.  Upacara pembukaan Indigenous Celebration ini dipimpin oleh penatua masyarakat Dayak Maanyan. Upacara ini dipandu secara takzim dengan diiringi oleh ritual doa sebagai langkah meminta izin dari leluhur dan meminta bantuan untuk menjaga lokasi acara selama acara berlangsung. Upacara ini melibatkan nyanyian kuno disertai dengan taburan beras dan air suci. Indigenous Celebration yang berlangsung selama tiga hari menempatkan tradisi untuk menghormati dunia yang terlihat, dan sekaligus yang tidak terlihat. Tema-tema lain yang melingkupi festival ini, juga mecangkup keunggulan artistrik, kolaborasi, persatuan hubungan antar-budaya yang kuat, persahabatan dan rasa hormat terhadap alam.

    Pementasan malam hari menampikan pertunjukan tari yang spektakuler di panggung, dibalut dengan pengaturan cahaya yang memukau, pemetaan koreografi, visual mapping, serta dilengkapi oleh cerita dari para penatua suku, dan tak kalah apik, pembacaan puisi menjadi kunci esensi pada malam itu. Pada malam penutupan, menghadirkan demonstrasi langsung teknik bertatto oleh dua suku yang berbeda yaitu Mentawai dan Dayak Iban, sungguh memikat hati penonton. Ada 29 lokakarya di siang hari, yang juga menerapkan tenun dari Nusa Tenggara Timur sebagai konten acara tersebut. Selain itu terdapat juga lokakarya pembuatan film bertemakan pribumi dan penyembuhan yang sehat oleh Suku Maori dari Selandia Baru. Semua kegiatan ini menarik penonton sekitar 2.500 orang yang hadir selama tiga hari acara.

    Acara ini diprakasai oleh David Metcalf dan Emmanuela Shinta. David Metclaf yang merupakan pemilik Taksu Photo Gallery di Ubud adalah seorang fotografer dan penulis yang fokus pada dokumentasi pribumi di Indonesia, dan Shinta adalah pendiri Yayasan Ranu Welum, Kalimantan Tengah. Dukungan diberikan oleh kedutaan Selandia Baru dan semua mitra termasuk Arma Museum, Green School, dan juga Antida Music Productions sebagai pelaksana acara Indigenous Celebration ini.

    Semua pihak berkontribusi penting dengan cara yang berbeda-beda dalam acara ini untuk membawa elemen-elemen seni pertunjukan, pendidikan, dan budaya secara bersamaan dan berkolaborasi dan ditampilkan utuh dalam acara ini. 34 Kelompok Pribumi pun dipilih dan diseleksi oleh David dan Shinta melalui konsultasi dengan AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara). Shinta mengatakan Indigenous Celebration adalah sebuah perayaan untuk identitas, kekuatan, dan keanekaragaman Pribumi.” Menurut David, Kolaborasi antara Indonesia dan Masyarakat Adat lainnya menciptakan platform untuk dialog dan pertukaran gagasan dan pengetahuan, dan memungkinkan ide mengalir dalam rajutan kebersamaan dengan ditemukan ikatan yang akan dibentuk. Dengan menambahkan pembacaan cerita dan puisi untuk pertunjukan tari yang dramatis, kami menggali lebih jauh berbagai khazanah budaya yang mengakar pada para sesepuh negeri. Sangat penting bagi Shinta dan saya sebagai pendiri untuk menciptakan kesadaran akan kearifan lokal/ tradisional, pada pertunjukan ini dengan dimensi dan cahaya yang baru. “

    Dari segi edukasi, Indigenous Celebration mengambil tempat lebih jauh di Green School pada tanggal 14 dan 15 Mei 2018, seusai acara di Arma Museum tersebut, dan melibatkan para pemimpin Adat dan para Penatua dari suku-suku yang bertemu dengan para siswa muda di ruang kelas. Selesai dengan diskusi panel antara tujuh kelompok yang meliputi suku Odisha, India, dan Suku Atoni dari Nusa Tenggara Timur. Indigenous Celebration adalah acara tahunan dan telah berjanji untuk menanam satu pohon di Kalimantan untuk setiap tiket yang dijual pada acara ini.

    Tahun depan, Komite berharap lebih banyak lagi keterlibatan dan dukungan baik dari kedutaan, maupun dari sponsor yang memiliki komitmen tulus mendukung budaya pribumi untuk bergabung dalam acara ini. Indigenous Celebration mencari mitra untuk bekerja sama dalam semangat kolaborasi lintas budaya. Ini adalah visi komite untuk memperluas peran perayaan dalam mengingat dan memperkuat solidaritas dengan alam, tradisi kesukuan, dan pelestarian budaya, dan kehormatan keragaman nusantara yang memperkuat identitas Indonesia di mata dunia, sebagai sebuah bangsa. (ist)


    Indigenous Celebration Review

    indigenous.jpg

    ultimoparadiso May 21, 2018 Igo Kleden EventReview

    100% of proceeds of the Indigenous Celebration go to support Indigenous Community Development Programs in Indonesia – Yayasan Ranu Welum

    BALI – The Indigenous Celebration staged at the Arma Museum in Ubud, Bali on May 11-13 built creatively on the sense of connection between the Indigenous people from Indonesia, the Pacific and India, including Odisha and Nagaland. There were 34 tribes represented. These included Gayo Aceh, Antoni from West Timor, Dayak Punan, an Australian Aboriginal group, Dayak Kenyah, Marind from Papua and a New Zealand Maori group. In all, 200 Indigenous people gathered in Bali for this inaugural event – from rivers, jungles, small villages and larger urban settlements.

    The Celebration provided a unique opportunity for participants to reinforce their indigenous identity. They shared their ideas, knowledge and wisdom, and staged performances that resonated with ancient rhythms, songlines and sacred dances.
    A moving opening ceremony was led by the elders of the Dayak Maanyan community. It included a prayer ritual which sought permission from their ancestors for the celebration and sought their help in guarding Arma’s sacred ground during the event. It involved ancient chants accompanied by the sprinkling of rice and holy water. The 3-day Indigenous Celebration continued this tradition of honouring the visible and invisible world. Other themes pervading the festival also included artistic excellence, collaboration, unity strong inter-cultural relationships, friendship and respect for nature.

    indigenous-1.jpg

    Along with spectacular evening dance performances on a beautifully tribal-themed stage with a stunning light arrangement and on-cue choreographed mapping (visual imaging), there was intimate storytelling by tribal elders and solo poetry recitals. On the closing night, a live demonstration of hand-tapping, a traditional tattooing technique by the masters of two different tribes – the Mentawai and the Dayak Iban, enthralled the audience. There were also 29 daytime workshops, which for example included weaving demonstrations by West Timorese, Indigenous filmmaking workshops and sound healing by the New Zealand Maori. All these activities attracted an audience of 2,500 over the three days.

    The event was initiated by David Metcalf and Shinta Emmanuela. David, the owner of Taksu Photo Gallery in Ubud, is a photographer and author focusing on indigenous documentation in Indonesia, and Shinta is the founder of Yayasan Ranu Welum, Central Kalimantan. Support was provided by the New Zealand Embassy and partners including rma Museum, Green School, event organisers Antida Music Production and others.

    indigenous-2.jpg

    All contributed in different and important ways to bringing the elements of performance art, education and culture together for the celebration. The 34 Indigenous groups were handpicked by David and Shinta in consultation with AMAN (Indigenous People’s Alliance of the Archipelago). Emmanuela said, “This celebration event was a showcase for our Indigenous identity, strength, and diversity.” According to David, “The collaboration between Indonesia and other indigenous peoples created a platform for dialogue and exchange and allowed for ideas to flow, similarities to be found and bonds to be formed. By adding storytelling and poetry reading to dramatic evening dance performances, we further encouraged genuine sharing of the elders’ wisdom. It was essential to Shinta and I as co-founders to create awareness of traditional wisdom, show it in a new light”.

    A 2-day educational programme at the Green School followed on May 15 and 16 and involved Adat leaders and elders from the tribes meeting the young students in the classrooms. It finished with a panel discussion between seven tribal groups including Odisha, India and the Atoni tribe of West Timor. The Indigenous Celebration is to be an annual event and have pledged to plant one tree in Kalimantan for each ticket sold in 2018.

    Next year the committee are hoping more embassies and corporate sponsors who have a genuine commitment to supporting indigenous cultures will come on board. The committee are seeking partners to work in a spirit of cross-cultural collaboration. It is the vision of the committee to expand the Celebration’s role of recalling and reinforcing solidarity with nature, tribal traditions, and cultural preservation and honour of the diversity of the archipelago that reinforces the identity of Indonesia and the world. Contact David Metcalf for sponsorship support for 2019.

    Please watch the show: A download link of the 3-day performance event, which features 15 hours of music, dance and performance, is available online through the Indigenous Celebration website www.indigenouscelebration.art. Contact: David Metcalf – davidmetcalf3@mac.com Tel:+62 811 1331 255 Emmanuela Shinta Ranu Welum – emmanuela.shinta@gmail.com
    Tel: +62 857 5170 0880. (*)


    Published  Tribun Bali newspaper May 13


    IMG_1405.jpg
    IMG_1408.jpg

    unnamed (4).jpg

    Indigenous Celebration
    11 May – 13 May 2018

    Bali Plus E-Newsletter | May 2018

    20 indigenous performing groups, 180 indigenous performers, 32 different indigenous cultures, 7 different countries, 15 hours of dance, music, stories and songs will all come together for three days at the Indigenous Festival to honour ancient wisdom and to celebrate diversity and deep ancestral connections through a spectacular collaborative display of music, dance and art and sharing between indigenous and non-indigenous participants...


    An Indigenous Celebration in Ubud

    Now Jakarta | Art & Culture | 11 April 2018

    Celebrating indigenous people and culture through dance, music, unity, art and collaboration at the Indigenous Celebration 2018 in May.

    This May sees the  first ever gathering of indigenous people from around the world in a celebration that honours the wisdom passed down from their ancestors and celebrates the diversity and the deep ancestral connections through what promises to be a spectacular celebration of music, dance and art.

    The Indigenous Celebration 2018, to be held at the Arma Museum & Resort in Bali between 11 and 13, involves more than 20 different indigenous groups from Indonesia, the Maori from New Zealand, the aboriginal people of Australia and the indigenous tribes of Nagaland in North East India among many more.

    32 different indigenous groups from seven countries will be at the event where through music, dance and story telling, elders and youth leaders will share knowledge with each other and the community at large. This will be followed by a two-day cultural educational event at the Green School on 14 and 15 May.

    This event is presented by Ranu Welum Foundation, an organisation based in Palangka Raya, Central Kalimantan, which works toward the preservation of the culture, humanity, environment and the rights of indigenous people. This organisation works through media and a combined approach of the new and old ways to mobilise indigenous youth, especially the Dayaks, the indigenous people of Kalimantan. Emmanuel Shinta, a Dayak woman who is the founder of Ranu Welum and also co-founder of the event noted that she was pleased that the event is leading the youth indigenous movement to be recognised by this country and an international audience and that it will address the community’s struggles and provide an opportunity for collaboration.

    content_DSC_5415.jpg

    The festival comes at a time when indigenous communities’ rights continue to be of concern globally. The Dayak of Kallimantan, for example, contine to face threates to their rights despite increased decentralisation in recent years.

    In North East India, the successful political incorporation of so-called minority groups by giving them significant levels of political autonomy and a major say in determining public policy is an important but relatively unrecognised part of the Indian government’s minority policy in the northeast.

    David Metcalf, co-founder of this event, has spent many years supporting indigenous communities in various places. His love for culture and indigenous people has led him into taking the step of initiating and conducting this huge event. “Through this event, I hope to combine youth with the “wise ones”, the older generation who hold so much wisdom and knowledge but is often buried away and can be lost forever. We simply cannot let that happen. I am so happy to see more young indigenous leaders rise up with incredible power to build their communities and preserve their culture. This stage is all for them!”

    content_DSC_5775.jpg

    Over 180 indigenous performers will celebrate and share on the stage. Some come from the rivers, villages and communities and most will be in Bali for the first time. Many of the groups will blend a mixture of youth and older generation so that the culture is passed on to the younger generation. With Antida Music Productions as the organiser, David and Shinta hope to attract more sponsorships to support the indigenous groups.

    This is non-profit event, and money from the ticket sales and sponsorships will be donated to registered Indonesian charities that preserve the culture and environment of indigenous communities. All schools are welcome to attend the daily workshops at The Arma and Green School educational session, which is free of charge by arrangement.

    Tickets for the nighttime performances start from IDR 250,000. Three-day tickets can be purchased from IDR 600,000. Student tickets are half price and it is free for children under 12.

    Daytime events include cultural workshops and merchandise and food booths.

    For more information log on to www.indigenouscelebration.art


    An Indigenous Celebration at Arma Museum & Resort

    NOW! Bali

    Taking place at Arma Museum & Resort in Ubud, a spectacular Indigenous Celebration will be brought to life between 11–13 May involving indigenous groups from Indonesia, Australian Aboriginals, Maori dancers, musicians and storytellers.

    The Indigenous Celebration provides a forum for sharing traditions, cultures, rituals, stories, art and music. The purpose of the gathering is to honour the ancient wisdom of indigenous peoples passed down from their ancestors, and to celebrate diversity and the deep ancestral connections through a collaborative display of music, dance and art.

    Most importantly, the festival will bring awareness to the very vulnerabilities that indigenous cultures face in the light of the ‘new world’, and brings to the forefront their fight and struggles to preserve something that is central to their very livelihoods. At the end of the day, the rest of us are reminded of the magic of these cultures.

    unnamed (1).jpg

    More than 190 performers from 32 different cultures and 8 countries will attend this historical event, offering not just dance and cultural performances but also workshops in tribal and ancestral wisdom.

    Among the highlights, there will also be an indigenous filmmaking workshop with perspectives from Papua, Kalimantan and Sumatra as well as a traditional tattooing demonstration by an Indonesian Mentawi elder and a well-known New Zealand Maori tattoo artist. Poetry, indigenous writing and traditional weaving workshops will draw on talents from West Timor to Odisha, India.  In total, there will be 39-daytime workshops, along with evening dance performances over the three nights.

    More information and tickets available here: www.indigenouscelebration.art


    Ranu Welum Adakan Perayaan Suku-Suku Asli Bertaraf Internasional di Ubud

    REDAKSIBALI.COM

     David Metcalf (pegang mikrofon)) didampingi  (ki-ka)  Kirk James Page, Jade Dewi  Tyas Tunggal, Emmanuela Shinta dan Anom Darsana dalam acara jumpa wartawan di Denpasar 

    David Metcalf (pegang mikrofon)) didampingi  (ki-ka)  Kirk James Page, Jade Dewi  Tyas Tunggal, Emmanuela Shinta dan Anom Darsana dalam acara jumpa wartawan di Denpasar 

    Yayasan Ranu Welum akan menyelenggarakan sebuah acara yang bertajuk Indigenous Celebration 2018 di Museum Arma, Ubud. Acara yang diselenggarakan tanggal 11 -13 Mei akan menjadi ajang pertemuan lebih dari 200 seniman yang berasal dari 32 kelompok suku dari 7 negara yang melebur dalam kreasi tari, musik, kearifan lokal, pendidikan. 

    "Acara ini merupakan suatu kesempatan untuk menghormati budaya yang kita warisi dari nenek moyang kita, sekaligus untuk merayakan identitas kita sebagai orang asli dari tanah Nusantara dengan semua yang kita miliki. Ada tujuh kelompok seni budaya Dayak yang hadir di acara ini. Saya bangga bahwa orang Dayak, yang dulunya sering disebut sebagai "orang hutan' atau 'pemburu kepala yang mengerikan', sekarang memimpin pergerakan pemuda adat agar bisa diakui negara ini dan khalayak internasional. Inilah saatnya memberi ruang bagi masyarakat adat agar bisa diterima bukan hanya dengan keindahan budaya kami namun juga segala permasalahan dan perjuangan kami" ungkap Emmanuela Shinta pendiri Yayasan Ranu Welum yang berbasis di Palangkaraya, Kalimantan Tengah

    David Metcalf, pria Australia yang menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk mendukung masyarakat adat kemanapun dia pergi menjadi pendiri acara ini, " Melalui acara ini , saya berharap bisa  menggabungkan pemuda  dengan leluhur, generasi tua  uang memiliki begitu banyak nikmat  dan pengetahuan namun seringkali terkubur jauh  dan mungkin akan hilang selamanya.  Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Saya hanya warga asing yang ingin melihat lebih banyak pemuda bangkit dengan kekuatan penuh untuk membangun komunitas mereka dan melestarikan budaya mereka. Acara ini milik mereka" ungkapnya

    Acara yang berlangsung selama tiga hari ini didukung oleh Antida Music Production. "Antida Music Production ada di sini untuk membuat acara inin sukses karena kami  mendukung budaya dan adat di Kalimantan dan ingin bersama membangun dan mengembangkan budaya Nusantara" ujar Anom Darsana, pemilik Antida Music Production dalam jumpa wartawan Senin, (7/5/ 2018) di Denpasar.

    Menurut panitia, kegiatan  ini merupakan acara amal dimana dana tiket dan sponsor yang terkumpul
    akan disumbangkan ke yayasan dan badan amal di Indonesia yang berdedikasi untuk melestarikan budaya dan komunitas adat. (GR)


    Bali To Host Indigenous Celebration 2018

    by BaliPictureNews - May 7, 2018

     Indigenous Celebration 2018 press conference

    Indigenous Celebration 2018 press conference

    DENPASAR, Bali (BPN) – Bali will have a new event on May 11 – 13 this year, titled Indigenous Celebration 2018. This will be the first ever gathering of indigenous people in Bali, from Indonesia and abroad in a spirit of dance, music, wisdom, education, unity and connection.

    The event involves more than 20 different indigenous groups from Indonesia and also other tribes from various countries such as Aboriginal from Australia, Maori from New Zealand and Nagaland tribes people from NE India. In total seven countries are represented and 32 different indigenous groups.

    Indigenous dancers, musicians, storytellers, elders and youth leaders will come together to learn from each other, at The Arma Museum & Resort. This will be followed by a two-days cultural educational event at the Green School, May 14 and 15. This is a private event, however schools from all over Bali and Indonesia have been invited.

    According to David Metcalf, co-founder of this event, through this celebration, indigenous people can learn and know each other culture.

    “I’ve been travelling around the world and have seen relations and similarities of one culture to another. that’s why, indigenous people involved in this event is hoped can learn and get to kNow each other,” he said on a press conference at Warung Kubu Kopi, Denpasar on Monday, 7.

    David explained, that most of indigenous people or tribes face the same problem, that is the gap between the elders and the youth in continuing the culture. “The important mission of the event is to unite them in order to taking care of the cultural legacy, because unity is strength,” David said.

    And that’s why Bali is considered as the ideal place to hold this important event because as a sacred island and also the heart of culture in Indonesia.

    “Through this event, I hope to combine youth with the “wise ones”, the older generation who hold so much wisdom and knowledge but is often buried away and can be lost forever. We simply cannot let that happen. I am so happy to see more young indigenous leaders rise up with incredible power to build their communities and preserve their culture. This stage is all for them!” he continued.

    This event is presented by Ranu Welum Foundation, an organization based in Palangka Raya, Central Kalimantan or Borneo, which stand for culture, humanity, environment and the rights of indigenous people.

    “This is an opportunity to honor our culture which we inherit from our ancestors, and to celebrate our identity as the first people of the land with all the wonderful gifts that we possess. There are seven Dayak groups from different areas of Kalimantan that will come. I am so proud that Dayak people who used to be labeled as ‘jungle people’ or ‘scary headhunters’ now leading the youth indigenous movement to be recognized by this country and an international audience. This is the time to give room for indigenous people to be accepted not only with our beauty but also with our struggles, and to walk together with non indigenous in a spirit of unity and collaboration,” Emmanuel Shinta, a Dayak woman who is the founder of Ranu Welum and also co-founder of the event said.

    As a non-profit event, the money left from the ticket sales and sponsorships will be donated to registered Indonesian Yayasan and charities that preserve the culture and environment of indigenous communities. All schools are also welcome to attend the daily workshops at The Arma and Green School educational session, which is free of charge by arrangement.


    Indigenous Celebration 2018” Hadirkan 32 Kelompok Suku dari 7 Negara

    baliekbis.com 07/05/2018

    IMG-20180507-WA0031.jpg

    Pada bulan Mei tahun ini akan ada sebuah acara besar di Bali yang bertajuk "Indigenous Celebration 2018". Ini akan menjadi sebuah ajang pertama di Bali yang mempertemukan suku-suku asli yang mengakar di tanah Nusantara, Indonesia, dan luar negeri yang melebur dalam semangat kreasi: tarian, musik, kearifan lokal, pendidikan, persatuan dan koneksi.

    Sebagai sebuah pulau sakral dan juga jantung budaya di Indonesia, Bali adalah tempat yang ideal untuk mengadakan perayaan yang luar biasa ini. Acara ini melibatkan lebih dari 20 kelompok masyarakat adat yang beragam dari Indonesia. Tidak hanya sebatas itu, suku-suku lain dari berbagai belahan negara seperti Suku Aborigin dari Australia, Suku Maori dari Selandia Baru dan Nagaland dari India juga turut serta memberi warna yang meriah dalam acara ini. Total penampil yang akan berpartisipasi adalah 32 kelompok suku yang berbeda dari 7 negara. Penari adat, musisi tradisional, penutur kisah budaya, sesepuh adat, dan pemimpin pemuda adat akan berbagi cerita dan pengalaman serta kearifan lokal dari budayanya masing-masing.

    Festival Perayaan Budaya ini akan diadakan selama tiga hari tiga malam bertempat di Arma Museum & Resort. Setelahnya selebrasi ini akan dilanjutkan dengan acara perkumpulan adat dan edukasi budaya di Green School pada tanggal 14 dan 15 Mei 2018. Ini adalah acara khusus dan bersifat pribadi, namun sekolah di seluruh Bali dan Indonesia pun turut diundang untuk hadir dalam acara tersebut.
    Acara ini dipersembahkan oleh Yayasan Ranu Welum, sebuah organisasi yang berbasis di Palangkaraya, Kalimantan Tengah yang berdiri untuk budaya, kemanusiaan, lingkungan dan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat. Organisasi ini bekerja melalui media dan kombinasi pendekatan modern dan kultural untuk memobilisasi gerakan pemuda adat, terutama Suku Dayak, penduduk asli Pulau Kalimantan.

    Emmanuela Shinta, seorang perempuan Dayak yang merupakan pendiri Ranu Welum dan juga salah satu pendiri acara ini, mengatakan acara ini merupakan satu kesempatan untuk menghormati budaya yang kita warisi dari nenek moyang kita, sekaligus untuk merayakan identitas kita sebagai orang asli dari tanah Nusantara dengan
    semua karunia yang kita miliki.

    Ada tujuh kelompok seni budaya Dayak yang akan hadir di acara ini. "Saya sangat bangga bahwa orang Dayak, yang dulunya sering disebut sebagai ‘orang hutan’ atau ‘pemburu kepala yang mengerikan’, sekarang memimpin kegerakan pemuda adat agar bisa diakui oleh negara ini dan khayalak Internasional. Inilah saatnya untuk memberi ruang bagi masyarakat adat agar bisa diterima bukan hanya dengan keindahan budaya kami namun juga segala permasalahan dan perjuangan kami,” jelasnya, Senin (7/5) di Denpasar.

    David Metcalf, yang merupakan salah satu pendiri acara ini, adalah orang penting di balik acara ini. Dia adalah seorang warga Australia yang telah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk mendukung masyarakat adat kemanapun dia pergi. Cintanya pada budaya dan masyarakat adat telah mendorongnya untuk mengambil langkah memulai suatu ajang yang besar ini. “Melalui acara ini, saya berharap bisa menggabungkan pemuda dengan yang “mereka yang bijak” (Baca: Leluhur, red), generasi tua yang memiliki begitu banyak hikmat dan pengetahuan namun seringkali terkubur jauh dan mungkin akan hilang selamanya. Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Saya hanyalah seorang warga asing yang ingin melihat lebih banyak pemimpin pemuda adat bangkit dengan kekuatan penuh untuk membangun komunitas mereka dan melestarikan budaya mereka. Acara ini adalah milik mereka,” jelasnya.

    Lebih dari 200 seniman dan penampil budaya akan hadir dan berbagi panggung. Beberapa be- rasal dari sungai, desa dan masyarakat lokal. Sebagian besar bahkan belum pernah datang ke Bali sebelumnya. Banyak dari kelompok tersebut akan memadukan generasi muda dan kearifan generasi tua sehingga budaya tersebut dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya. Bersama dengan Antida Music Productions sebagai pelaksana acara, David dan Shinta berharap komunitas di Bali dapat memberikan dukungannya dengan cara datang dan berpartisipasi.

    “Antida Music Productions ada di sini untuk membuat acara ini sukses karena kami mendukung budaya dan adat Kalimantan dan ingin bersama membangun dan mengembangkan budaya Nusantara, ujar Anom Darsana, Pemilik Antida Music Productions.
    Acara ini adalah acara nirlaba, dan uang yang tersisa dari penjualan tiket dan sponsor akan disumbangkan ke Yayasan dan badan amal Indonesia yang berdedikasi untuk melestarikan budaya dan lingkungan komunitas adat. Seluruh sekolah diundang untuk menghadiri workshop di Arma dan sesi edukasi di Green School yang tidak dikenakan biaya. (ita)


    Indigenous Celebration 2018: Carrying Social Issues Faced by Indigenous Communities

    Beritabali.com.Denpasar Senin, 07 Mei 2018

    indigenous-celebration-2018-carrying-social-issues-faced-by-indigenous-communities-_362015.jpg

    Bali will have a new event on  May 11 – 13 this year, titled Indigenous Celebration 2018. This will be the first ever gathering of indigenous people in Bali, from Indonesia and abroad in a spirit of dance, music, wisdom, education, unity and connection. As a sacred island and also the heart of culture in Indonesia, Bali is the ideal place to hold this important event.  

    The event involves more than 20 different indigenous groups from Indonesia and also other tribes from various countries such as Aboriginal from Australia, Maori from New Zealand and Nagaland tribes people from NE India. In total 7 countries are represented and 32 different indigenous groups. Indigenous dancers, musicians, storytellers, elders and youth leaders will come together to learn from each other, at The Arma Museum & Resort an ideal location. This will be followed by a 2-day cultural educational event at the Green School, May 14 and 15. This is a private event, however schools from all over Bali and Indonesia have been invited. 

    This event is presented by Ranu Welum Foundation, an organization based in Palangka Raya, Central Kalimantan, which stand for culture, humanity, environment and the rights of indigenous people. This organization works through media and a combined approach of the new and old ways to mobilize indigenous youth, especially the Dayaks, the indigenous people of Kalimantan Island. 

    Emmanuel Shinta, a Dayak woman who is the founder of Ranu Welum and also co-founder of the event said that This is an opportunity to honor our culture which we inherit from our ancestors, and to celebrate our identity as the first people of the land with all the wonderful gifts that we possess. There are seven Dayak groups from different areas of Kalimantan that will come. 

    She felt so proud that Dayak people who used to be labeled as ‘jungle people’ or ‘scary headhunters’ now leading the youth indigenous movement to be recognized by this country and an international audience. This is the time to give room for indigenous people to be accepted not only with our beauty but also with our struggles, and to walk together with non indigenous in a spirit of unity and collaboration.”

    David Metcalf, also co-founder of this event, has spent many years of his life supporting indigenous communities in various places. His love for culture and indigenous people has led him into taking the step of initiating and conducting this huge event. 

    “Through this event, I hope to combine youth with the “wise ones”, the older generation who hold so much wisdom and knowledge but is often buried away and can be lost forever. We simply cannot let that happen. I am so happy to see more young indigenous leaders rise up with incredible power to build their communities and preserve their culture. This stage is all for them!,” Said David. 

    Over 180 indigenous performers will celebrate and share on the stage. Some come from the rivers, villages and communities and most have never been to Bali before.  Many of the groups will blend a mixture of youth and older generation so that the culture is passed on to the younger generation. With Antida Music Productions as the organizer, David and Shinta hope to attract more sponsorships to support the indigenous groups to join and hope that the Bali community support this event by coming along and participating. 

    This is non-profit event, and money left from the ticket sales and sponsorships will be donated to registered Indonesian Yayasan and charities that preserve the culture and environment of indigenous communities. All schools are welcome to attend the daily workshops at The Arma and Green School educational session, which is free of charge by arrangement. 

    Tickets are very reasonable for an event like this with tickets for the nighttime performances from just Rp 250,000. Three-day tickets can be purchased from 600,000 and students are half price, children under 12 free. (bbn/rls/rob)


    Indigenous Celebration 2018 Jadi Ajang Pertemuan Suku-Suku Asli Nusantara dan Luar Negeri

    TRIBUN-BALI.COM  Wartawan Tribun Bali, Busrah Hisam Ardans

    indigenous-celebration-2018_20180507_132832.jpg

    Sebanyak 32 kelompok suku dari 7 negara dan 20 kelompok masyarakat adat  dari Indonesia akan menghadiri acara Indigenous Celebration, yang siap diselenggarakan oleh Yayasan Ranu Welum di Arma Ubud, Bali tanggal 11-13 Mei nanti.

    Dalam Konferensi Pers Indigenous Celebration, Senin (7/5/2018) di Warung Kubu Kopi siang ini, Emmanuela Shinta sebagai perempuan Dayak yang juga merupakan pendiri Ranu Welum mengatakan, acara tersebut ditujukan untuk mewarisi kebudayaan nenek moyang sekaligus merayakan identitas sebagai orang asli Tanah Nusantara.

    Indigenous Celebration 2018 adalah ajang pertama kali yang diadakan di Bali untuk mempertemukan suku-suku asli yang mengakar di Nusantara dan Luar Negeri, yang melebur dalam semangat kreasi tarian, musik, kearifan lokal, pendidikan, persatuan dan koneksi.

    Kata dia ada tujuh kelompok dayak yang akan hadir di acara tersebut.

    "Saya bangga menjadi generasi suku dayak, apalagi kini memimpin pergerakan pemuda adat agar bisa diakui oleh negara dan khalayak internasional. Saatnya menerima keindahan budaya kami dengan segala permasalahannya," katanya.

    Acara ini juga didukung oleh Antida Music Productions selaku pelaksana acara Indigenous Celebration 2018. (*)


    Indigenous Celebration 2018; Festival Perayaan Budaya Tampilkan 32 Kelompok Suku Dari 7 Negara

    bali-travelnews.com May 8, 2018

    Indigenous-Celebration-2018-690x450.jpeg

    Indigenous Celebration, sebuah ajang pertama yang mempertemukan suku-suku asli mengakar di tanah Nusantara, Indonesia, dan luar negeri digelar di Arma Museum & Resort Ubud. Festival Perayaan Budaya ini akan diadakan selama tiga hari tiga malam dengan menampilkan suku-suku asli berkolaboradi melebur dalam semangat kreasi tari, musik, kearifan lokal, pendidikan, persatuan dan koneksi. “Bali sebagai sebuah pulau sakral dan juga jantung budaya di Indonesia merupakan tempat yang ideal untuk mengadakan perayaan yang luar biasa ini,” kata David Metcalf salah satu pendiri acara ini, saat jumpa pers di Denpasar, Senin (8/5).

    Lebih dari 20 kelompok masyarakat adat yang beragam di Indonesia akan tampil. Suku-suku lain dari berbagai belahan negara seperti Suku Aborigin dari Australia, Suku Maori dari Selandia Baru dan Nagaland dari India juga turut serta memberi warna meriah. Demikian pula berpartisipasi 32 kelompok suku yang berbeda dari 7 negara. Mereka terdiri dari penari adat, musisi tradisional, penutur kisah budaya, sesepuh adat, dan pemimpin pemuda adat akan berbagi cerita dan pengalaman serta kearifan lokal dari budayanya masing-masing.

    Acara yang dipersembahkan Yayasan Ranu Welum, sebuah organisasi yang berbasis di Palangkaraya, Kalimantan Tengah itu juga diisi dengan acara perkumpulan adat dan edukasi budaya di Green School pada tanggal 14 dan 15 Mei 2018. “Ini adalah acara khusus dan bersifat pribadi, namun sekolah di seluruh Bali dan Indonesia pun turut diundang untuk hadir dalam acara tersebut,” imbuh seorang warga Australia ini.

    Emmanuela Shinta, seorang perempuan Dayak yang merupakan pendiri Ranu Welum dan juga salah satu pendiri acara ini, mengatakan, acara ini merupakan satu kesempatan untuk menghormati budaya yang kita warisi dari nenek moyang kita, sekaligus untuk merayakan identitas kita sebagai orang asli dari tanah Nusantara dengan semua karunia yang kita miliki. “Ada tujuh kelompok seni budaya Dayak yang akan hadir di acara ini. Saya sangat bangga bahwa orang Dayak, yang dulunya sering disebut sebagai ‘orang hutan’ atau ‘pemburu kepala yang mengerikan’, sekarang memimpin kegerakan pemuda adat agar bisa diakui oleh negara ini dan khayalak Internasional,” ucapnya.

    Bersama dengan Antida Music Productions sebagai pelaksana acara, David dan Shinta berharap komunitas di Bali dapat memberikan dukungannya dengan cara datang dan berpartisipasi. “Antida Music Productions ada di sini untuk membuat acara ini sukses karena kami mendukung budaya dan adat Kalimantan dan ingin bersama membangun dan mengembangkan budaya Nusantara,“ ujar Anom Darsana, Pemilik Antida Music Productions. (BTN/bud)


      Indigenous Celebration on Bali Travel News, 11 May 2018

      image1.png

      Tribun Bali newspaper May 13